Kamis, 01 Desember 2016

Cerita : Hanya Diam

Siang itu di sebuah halaman rumah yang cukup luas dan aman terlihat dua bocah laki-laki sedang berlari dan bermain bersama. Lima atau enam tahun usia mereka sepertinya. Menikmati masa anak-anak yang penuh canda tawa. Tidak ada raut sedih yang nampak di wajah mereka. Hanya ada senyum dan tawa menggantung di bibir kedua bocah itu.



Dilihatnya sebuah puntung rokok tergeletak di tanah dari seorang serdadu yang baru saja membuangnya. Sebatang rokok yang sebelumnya menemani sang serdadu duduk menunggu seorang penjahit menyelesaikan pesanannya.

Sebuah bangunan dari kayu dan bambu yang cukup tua itu  menjadi ladang untuk mencari rejeki bagi penjahit yang sudah tak muda lagi. Ditemani kursi panjang dari kayu untuk duduk pelanggan, si penjahit sudah bisa membuka lapaknya di kesehariannya.

Bangunan tua si pejahit dan rumah yang memiliki halaman cukup luas untuk bermain dua bocah tadi terletak bersisian (baca blog direktori).

“Eh, rokok-rokok!” dengan penuh kegirangan salah satu bocah itu berkata kepada bocah lainnya. Rasa penasaran pun muncul dalam benak mereka berdua. Diambilnya putung rokok itu dan perlahan-lahan mendekat ke bibir yang masih perjaka.

“Manis! Enak-enak!” teriak salah satu bocah.

“Sini-sini, aku juga pengen coba.”

“Nih!” bocah itu memberikan rokok yg dianggap sudah menjadi miliknya ke bocah satunya. Sebatang rokok itu kini dinikmati kedua mulut bocah itu. Bergilir dari satu mulut ke mulut lainnya (baca cerpen).

Sang serdadu tertawa melihat pemandangan yang sedang dilihatnya. Dengan lucunya dia memamerkan kepada si penjahit. Si penjahit tersenyum sekedar membalas pernyataan dari sang serdadu. Tapi tetap diam menghiraukan. Kedua bocah itu menghiraukan mereka para orang tua yang sedang tertawa, sang serdadu dan si penjahit. Walaupun masih nampak rasa malu-malu dalam raut wajah kedua bocah itu.
Sementara aku, hanya bisa diam menangkap warna sosial dihadapanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar